Site icon Berita Terkini

Dua Gelombang Arus Balik Diprediksi, Kakorlantas Berlakukan Skema Lalin

Antisipasi Dua Gelombang Arus Balik, Kakorlantas Siapkan Rekayasa Lalin

Antisipasi Dua Gelombang Arus Balik, Kakorlantas Siapkan Rekayasa Lalin

JAKARTA — Memasuki penghujung masa arus balik Lebaran 2026, Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri mulai mengantisipasi potensi lonjakan kendaraan gelombang kedua yang diperkirakan terjadi dalam beberapa hari ke depan. Berbagai strategi pengaturan lalu lintas pun telah disiapkan guna menjaga kelancaran perjalanan menuju Jakarta dan kota-kota besar lainnya.

Kepala Korlantas Polri Irjen Pol. Agus Suryonugroho menyampaikan bahwa arus balik tahun ini terbagi dalam dua fase utama. Gelombang pertama telah berlangsung pada 24 Maret 2026, sementara gelombang kedua diprediksi mencapai puncaknya pada 28 Maret 2026. Pembagian ini menjadi dasar dalam penyusunan langkah antisipasi di lapangan.

Untuk menghadapi potensi peningkatan volume kendaraan, Korlantas Polri memperkuat koordinasi lintas sektor. Sejumlah instansi terkait dilibatkan dalam pembahasan teknis guna menentukan skema rekayasa lalu lintas yang paling efektif. Rapat koordinasi dijadwalkan untuk mematangkan keputusan, termasuk kemungkinan penerapan sistem satu arah atau one way di sejumlah ruas jalan tol.

Selain itu, opsi penerapan one way lokal mulai dipertimbangkan sebagai langkah awal. Skema ini dirancang untuk mengurai kepadatan secara bertahap sebelum mencapai puncak arus balik kedua. Jalur-jalur strategis di Tol Trans Jawa menjadi fokus utama dalam perencanaan tersebut.

Di sisi lain, kondisi lalu lintas di sejumlah titik terpantau relatif terkendali pada pagi hari. Salah satu contohnya terlihat di Gerbang Tol Perambanan, Klaten, Jawa Tengah. Arus kendaraan yang keluar dan masuk kawasan tersebut cenderung landai, terutama pada waktu pagi dengan intensitas kendaraan yang lebih rendah dibandingkan sore atau malam hari.

Berdasarkan data dari pengelola jalan tol, jumlah kendaraan yang melintas di gerbang tol tersebut dalam satu jam tidak melebihi 500 unit. Angka ini jauh lebih kecil dibandingkan periode sibuk pada malam hari yang dapat mencapai lebih dari 1.000 kendaraan per jam. Secara kumulatif, pergerakan kendaraan dalam kurun waktu hampir 24 jam menunjukkan tren penurunan dibandingkan hari sebelumnya.

Meski demikian, pengelola tol tetap mengoperasikan seluruh gardu layanan untuk mengantisipasi lonjakan sewaktu-waktu. Langkah ini dilakukan sebagai bentuk kesiapsiagaan menghadapi dinamika arus lalu lintas yang dapat berubah dengan cepat, terutama menjelang puncak gelombang kedua.

Gerbang Tol Perambanan diketahui menjadi salah satu titik penting karena berfungsi sebagai akses menuju wilayah Yogyakarta. Daerah tersebut merupakan destinasi wisata favorit yang banyak dikunjungi selama libur Lebaran. Oleh karena itu, arus kendaraan di kawasan ini cenderung meningkat pada waktu tertentu, khususnya pada sore hingga malam hari.

Sementara itu, kondisi di Pelabuhan Bakauheni, Lampung, juga menunjukkan situasi yang relatif terkendali pada pagi hari. Aktivitas penyeberangan di dermaga eksekutif terpantau lengang tanpa antrean signifikan di area parkir kendaraan. Namun, kepadatan sempat terjadi pada malam sebelumnya meskipun masih dalam batas yang dapat dikelola.

Data operasional menunjukkan adanya peningkatan jumlah kendaraan yang menyeberang menuju Pulau Jawa dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Dalam kurun waktu 24 jam, lebih dari sepuluh ribu kendaraan tercatat telah melakukan penyeberangan. Selain itu, jumlah penumpang pejalan kaki juga mengalami kenaikan meskipun tidak terlalu signifikan.

Secara keseluruhan, baru sekitar separuh dari total pergerakan arus balik yang telah terealisasi. Hal ini mengindikasikan bahwa masih terdapat potensi lonjakan besar dalam beberapa hari mendatang, seiring dengan berakhirnya masa libur dan dimulainya kembali aktivitas masyarakat.

Menghadapi kondisi tersebut, operator penyeberangan telah menyiapkan sejumlah langkah antisipasi. Salah satunya adalah penerapan sistem tiket terpadu yang menyederhanakan layanan tanpa membedakan kelas. Selain itu, skema pengaturan keberangkatan kendaraan juga diterapkan untuk mendistribusikan beban lalu lintas secara merata di setiap dermaga.

Langkah lain yang disiapkan adalah penerapan pola tiba, bongkar, dan berangkat (TBB) apabila terjadi lonjakan kendaraan secara signifikan. Skema ini memungkinkan proses bongkar muat dilakukan lebih cepat sehingga waktu tunggu dapat diminimalkan.

Korlantas Polri menegaskan bahwa seluruh upaya tersebut dilakukan untuk memastikan kelancaran dan keselamatan perjalanan masyarakat. Pengawasan akan terus ditingkatkan hingga seluruh rangkaian arus balik selesai.

Masyarakat juga diimbau untuk merencanakan perjalanan dengan baik, termasuk memilih waktu keberangkatan yang tepat. Kepatuhan terhadap aturan lalu lintas dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga kelancaran arus kendaraan secara keseluruhan.

Dengan sinergi antara aparat, pengelola transportasi, dan masyarakat, diharapkan arus balik Lebaran 2026 dapat berlangsung tertib. Antisipasi terhadap gelombang kedua menjadi fokus utama agar kepadatan dapat diurai sejak dini dan perjalanan tetap aman serta nyaman.

Exit mobile version