Korlantas Polri Siapkan Strategi Operasi Ketupat 2026 dengan Pendekatan Humanis dan Teknologi
Korlantas Polri Siapkan Strategi Operasi Ketupat 2026 dengan Pendekatan Humanis dan Teknologi

Korlantas Polri mulai mematangkan langkah strategis menjelang pelaksanaan Operasi Ketupat 2026. Persiapan ini dilakukan setelah keberhasilan pengamanan arus lalu lintas pada periode Natal dan Tahun Baru (Nataru), yang dinilai mampu menekan angka kecelakaan serta fatalitas korban. Keberhasilan tersebut menjadi landasan untuk menghadirkan pendekatan baru dalam pengamanan mudik dan balik Lebaran tahun mendatang.

Kepala Korps Lalu Lintas (Kakorlantas) Polri Irjen Pol Agus Suryonugroho menekankan bahwa Operasi Ketupat tidak hanya berfokus pada kelancaran arus kendaraan. Menurutnya, pengamanan Lebaran harus mencerminkan kehadiran negara melalui pelayanan yang nyata, perlindungan maksimal, serta sikap humanis aparat di lapangan. Dengan pendekatan tersebut, masyarakat diharapkan dapat merayakan Ramadan dan Idul Fitri dengan rasa aman dan nyaman.

Irjen Agus mengingatkan jajarannya agar tidak berpuas diri atas capaian sebelumnya. Meski Operasi Ketupat tahun lalu memperoleh apresiasi luas, termasuk dari Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto, evaluasi tetap diperlukan. Apresiasi tersebut dinilai sebagai pemicu untuk bekerja lebih maksimal, bukan alasan untuk berhenti berinovasi. Oleh karena itu, Korlantas Polri mulai menyusun berbagai pembaruan, baik dari sisi pelayanan, budaya kerja, maupun pemanfaatan teknologi.

Salah satu fokus utama dalam persiapan Operasi Ketupat 2026 adalah optimalisasi pelayanan di jalur arteri, jalan tol, hingga kawasan rest area. Irjen Agus meminta seluruh personel lalu lintas hadir sebagai pelayan masyarakat, bukan semata-mata penegak hukum. Pendekatan ini menempatkan keselamatan dan kenyamanan pengguna jalan sebagai prioritas utama selama periode mudik dan balik Lebaran.

Lebih jauh, Irjen Agus menyampaikan rencana perubahan citra Polantas pada 2026. Ia menargetkan terwujudnya wajah baru polisi lalu lintas yang dikenal humanis, komunikatif, serta tetap tegas dan bijaksana. Transformasi ini tidak hanya bersifat simbolik, melainkan menyentuh perubahan kultur kerja yang telah dipersiapkan sejak 2025. Menurutnya, perubahan budaya menjadi kunci agar pendekatan humanis dapat diterapkan secara konsisten di lapangan.

Dalam pandangannya, keberhasilan Polantas tidak diukur dari banyaknya tindakan penegakan hukum. Sebaliknya, kebanggaan sejati muncul ketika masyarakat tertib berlalu lintas karena kesadaran. Oleh sebab itu, kehadiran polisi lalu lintas diharapkan mampu membangun komunikasi yang baik, memberikan edukasi hukum, serta menumbuhkan kepercayaan publik. Dengan cara ini, hubungan antara Polantas dan pengguna jalan dapat terjalin lebih positif.

Irjen Agus juga menegaskan pentingnya sikap profesional dalam setiap situasi. Ia meminta seluruh anggota mengedepankan senyum sebagai simbol pelayanan, tanpa mengurangi ketegasan dalam bertindak. Setiap pelanggaran tetap harus ditindak sesuai aturan, namun dilakukan secara proporsional, tidak emosional, dan tanpa praktik transaksional. Pendekatan tersebut dinilai mampu menjaga wibawa aparat sekaligus menghormati hak masyarakat.

Selain perubahan kultur, Korlantas Polri menaruh perhatian besar pada pemanfaatan teknologi. Pada 2026, penggunaan drone akan dimaksimalkan sebagai bagian dari pengawasan dan penegakan hukum lalu lintas. Irjen Agus menargetkan operasional drone dilakukan secara rutin, minimal tiga kali dalam sepekan. Teknologi ini diproyeksikan menjadi tulang punggung dalam memantau kondisi keamanan, keselamatan, ketertiban, dan kelancaran lalu lintas.

Pemanfaatan drone dinilai mampu memperluas jangkauan pengawasan, termasuk di titik-titik strategis yang sulit dipantau secara konvensional. Selain itu, data dari udara dapat menjadi dasar penyampaian informasi yang akurat kepada masyarakat. Integrasi dengan infrastruktur teknologi lain, seperti sistem K3I dan konsep smart city, juga diharapkan memperkuat pengambilan keputusan di lapangan.

Irjen Agus menekankan bahwa ke depan, informasi lalu lintas tidak hanya bergantung pada kamera pemantau statis. Dengan dukungan drone, Korlantas Polri dapat memperoleh gambaran situasi secara real time, baik di darat maupun di wilayah penyeberangan. Pendekatan ini sekaligus memperkuat kolaborasi dan koordinasi lintas sektor dalam pengelolaan lalu lintas nasional.

Melalui persiapan Operasi Ketupat 2026, Korlantas Polri menargetkan pengamanan mudik yang lebih adaptif, humanis, dan berbasis teknologi. Transformasi ini diharapkan mampu menjawab tantangan lalu lintas yang semakin kompleks, sekaligus meningkatkan kepercayaan publik terhadap peran polisi lalu lintas sebagai pelindung dan pelayan masyarakat.

Artikel sebelumyaPT Qudo Buana Nawakara Nilai AI Radio sebagai Strategi Adaptasi Media Konvensional
Artikel berikutnyaKorlantas Polri Resmi Gunakan Drone ETLE untuk Penegakan Hukum Lalu Lintas
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments