Reformasi kepolisian di berbagai negara maju umumnya bergerak menuju penguatan kepercayaan publik sebagai fondasi utama keselamatan. Teknologi modern, sistem penegakan hukum berbasis data, serta pemanfaatan kecerdasan buatan menjadi pilar penting dalam pengelolaan keamanan. Namun, Indonesia menempuh jalur yang berbeda dengan mengintegrasikan praktik global ke dalam nilai budaya lokal yang telah mengakar di masyarakat.
Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri melalui program Polantas Menyapa dan Melayani 2026 menghadirkan pendekatan yang dikenal sebagai local wisdom governance. Program ini dipimpin oleh Kakorlantas Polri Irjen Pol Drs. Agus Suryonugroho, S.H., M.Hum., dengan menitikberatkan pada nilai menyapa, empati, gotong royong, dan pelayanan sebagai wajah negara di ruang publik. Pendekatan tersebut menempatkan Polantas tidak hanya sebagai pengatur lalu lintas, tetapi juga sebagai penghubung sosial dan penjaga rasa aman.
Secara global, konsep keselamatan lalu lintas telah berkembang melalui berbagai model. Jepang mengedepankan community policing, Inggris dengan neighborhood policing, Amerika Serikat melalui prinsip procedural justice, dan Swedia dengan Vision Zero. Meski demikian, Korlantas Polri tidak mengadopsi model tersebut secara mentah. Nilai-nilai global itu diterjemahkan ke dalam konteks sosial Indonesia yang menekankan kedekatan dan pelayanan.
Dalam implementasinya, makna “menyapa” dipahami sebagai komunikasi kemanusiaan yang membangun relasi, sedangkan “melayani” menjadi simbol pengabdian negara kepada masyarakat. Pendekatan ini menegaskan bahwa keselamatan lalu lintas tidak hanya bergantung pada penegakan hukum, tetapi juga pada kepercayaan publik. Dengan komunikasi yang humanis, kepatuhan diharapkan tumbuh dari kesadaran, bukan sekadar ketakutan terhadap sanksi.
Program ini juga memperkuat kolaborasi dengan berbagai elemen masyarakat. Salah satunya melalui pelibatan komunitas pengemudi ojek online sebagai mitra strategis. Pengemudi dinilai memiliki pengalaman lapangan dan pemahaman langsung terhadap dinamika jalan raya. Kegiatan bersama komunitas tersebut telah dilaksanakan di sejumlah daerah, mulai dari Yogyakarta, Medan, Surabaya, hingga Bali dan Kalimantan Timur.
Selain itu, Polantas Menyapa dan Melayani 2026 memandang jalan raya sebagai ruang peradaban. Jalan tidak hanya dilihat sebagai sarana mobilitas, melainkan ruang sosial tempat nilai disiplin, saling menghormati, dan kepedulian diuji setiap hari. Interaksi sederhana antara aparat dan masyarakat di ruang ini dinilai berpengaruh besar terhadap persepsi publik terhadap negara.
Ke depan, program ini dirancang bukan sebagai proyek jangka pendek, melainkan sebagai upaya membangun budaya organisasi yang berkelanjutan. Dengan memadukan modernisasi dan kearifan lokal, Korlantas Polri berupaya menghadirkan model keselamatan lalu lintas yang relevan dengan karakter masyarakat Indonesia, sekaligus selaras dengan perkembangan global.





