JAKARTA — Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri resmi menutup rangkaian Operasi Ketupat 2026 pada Selasa dini hari pukul 24.00 WIB. Penutupan ini menandai berakhirnya fase utama pengamanan arus mudik dan balik Lebaran tahun ini. Meski demikian, pengamanan lalu lintas tetap dilanjutkan melalui skema Kegiatan Rutin yang Ditingkatkan (KRYD) untuk mengantisipasi sisa pergerakan masyarakat.
Kepala Korps Lalu Lintas Polri Irjen Pol. Agus Suryonugroho menyampaikan bahwa pelaksanaan Operasi Ketupat tahun ini mencatat capaian signifikan, khususnya dalam aspek keselamatan. Berdasarkan hasil evaluasi, angka fatalitas korban meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas mengalami penurunan sebesar 30,41 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Selain itu, jumlah kejadian kecelakaan juga menurun sebesar 5,31 persen.
Agus menegaskan bahwa capaian tersebut merupakan hasil sinergi berbagai pihak yang terlibat dalam pengamanan Lebaran. Ia menilai kehadiran negara melalui aparat di lapangan menjadi faktor penting dalam menjaga keselamatan pemudik.
“Ini adalah hasil kerja keras bersama. Negara hadir, Polri hadir di jalan bukan hanya untuk mengatur, tetapi memastikan perjalanan duta-duta mudik aman dan selamat sampai tujuan,” ujarnya.
Di sisi lain, Korlantas mencatat bahwa arus mudik dan arus balik Lebaran 2026 mencapai rekor tertinggi sepanjang penyelenggaraan Operasi Ketupat. Volume kendaraan yang melintas pada puncak arus mudik mengalami kenaikan lebih dari 4 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, lonjakan arus balik bahkan tercatat meningkat lebih dari 14 persen.
Lonjakan tersebut menunjukkan tingginya mobilitas masyarakat selama periode Lebaran. Namun demikian, pengelolaan lalu lintas dinilai tetap berjalan terkendali berkat penerapan strategi rekayasa lalu lintas yang adaptif dan berbasis data.
Meskipun operasi utama telah berakhir, Korlantas Polri mengungkapkan bahwa pergerakan arus balik belum sepenuhnya selesai. Hingga saat ini, masih terdapat sekitar 36 persen pemudik atau setara dengan 1,2 juta kendaraan yang belum kembali ke wilayah Jakarta dan sekitarnya.
Sebaran kendaraan tersebut masih berada di sejumlah wilayah utama, seperti jalur Trans Jawa, Jawa Barat, dan Trans Sumatera. Oleh karena itu, pengawasan dan pengamanan tetap dilakukan secara intensif untuk memastikan kelancaran perjalanan sisa arus balik.
“Sebanyak 36 persen pemudik saat ini masih berada di wilayah Trans Jawa, Jawa Barat, dan Trans Sumatera,” kata Agus.
Untuk mengantisipasi potensi kepadatan, Korlantas tetap menyiagakan personel di lapangan. Selain itu, pemantauan lalu lintas dilakukan secara berkelanjutan melalui Command Center yang terintegrasi dengan berbagai perangkat teknologi.
Dalam menghadapi potensi lonjakan lanjutan, Korlantas juga telah menyiapkan skenario rekayasa lalu lintas untuk gelombang kedua arus balik. Puncak arus susulan diperkirakan akan terjadi pada akhir pekan, tepatnya pada 28 dan 29 Maret 2026.
Agus menjelaskan bahwa pemberlakuan kembali sistem one way akan didasarkan pada parameter tertentu, khususnya data traffic counting di Gerbang Tol Kalikangkung. Jika volume kendaraan mencapai kisaran 3.900 hingga 4.000 kendaraan per jam secara berturut-turut, maka rekayasa lalu lintas tersebut berpotensi kembali diterapkan.
“Jika parameter di Kalikangkung menunjukkan angka tersebut secara konsisten, kemungkinan besar kami akan kembali memberlakukan one way,” jelasnya.
Keberhasilan pengelolaan arus lalu lintas tahun ini juga didukung oleh pemanfaatan teknologi digital. Penggunaan ETLE drone dan sistem pemantauan CCTV memungkinkan pengambilan keputusan secara cepat dan akurat. Teknologi ini membantu mengidentifikasi potensi kepadatan serta mempercepat respons terhadap kondisi di lapangan.
Selain itu, pengoperasian sejumlah ruas tol fungsional turut berperan dalam mendistribusikan arus kendaraan. Jalur alternatif seperti Japek II Selatan dan Bocimi dinilai efektif dalam mengurangi beban lalu lintas di jalur utama, baik di jalan tol maupun arteri.
Korlantas juga memberikan perhatian khusus pada manajemen rest area dan jalur arteri. Pengendalian dilakukan untuk mencegah penumpukan kendaraan yang dapat memicu kemacetan maupun meningkatkan risiko kecelakaan.
Dalam kesempatan tersebut, Kakorlantas mengimbau masyarakat untuk memanfaatkan kebijakan Work From Anywhere (WFA) guna menghindari kepadatan pada puncak arus balik susulan. Dengan fleksibilitas waktu kerja, pemudik diharapkan dapat mengatur jadwal perjalanan secara lebih bijak.
Ia juga mengingatkan pengendara agar tidak memaksakan berhenti di rest area yang sudah penuh. Sebagai alternatif, pengguna jalan disarankan keluar dari tol untuk beristirahat di jalur arteri sebelum kembali melanjutkan perjalanan.
“Apabila rest area penuh, silakan keluar ke jalan arteri untuk beristirahat atau menikmati fasilitas di sekitar, lalu masuk kembali ke tol. Yang utama adalah menjaga konsentrasi dan keselamatan,” tegasnya.
Dengan berakhirnya Operasi Ketupat 2026, Polri menegaskan komitmennya untuk tetap hadir dalam mengawal mobilitas masyarakat hingga seluruh rangkaian arus balik benar-benar selesai. Melalui penguatan KRYD, diharapkan sisa perjalanan pemudik dapat berlangsung aman, tertib, dan lancar.





